Edwin Rahardjo: Seniman Juga Harus Membangun Network

August 20, 2008

Setelah menyelesaikan studi di Amerika, Edwin Rahardjo membuka sebuah studio foto di Jakarta pada awal tahun 80-an. Dari studio foto yang bernama Sigma Studio itu, kemudian tercetus ide untuk membuat sebuah galeri seni. Pada tahun 1984, berdirilah sebuah galeri seni yang diberi nama Edwin’s Gallery.

Pada awalnya, galeri ini mendisplay karya grafis dari era kolonial yang berbentuk sketsa dan litografi. Pilihan materi pameran yang berani tersebut memang berasal dari ketertarikan Edwin sendiri terhadap benda-benda seni yang bernilai tinggi. Sayangnya, pameran tersebut tidak banyak menarik perhatian masyarakat. Kemudian, gambar-gambar yang dipamerkan tersebut direproduksi ke dalam bentuk kartu dan kartu pos. Tujuannya sangat sederhana: agar masyarakat bisa memiliki gambar-gambar tersebut dengan harga yang terjangkau.

Edwin’s Gallery sebelumnya berlokasi di Jalan Sisingamangaraja. Menjelang kepindahannya ke Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, beberapa rangkaian pameran telah disiapkan. Pameran pertama diadakan pada tanggal 13 Desember 1987. Setelah itu, pameran demi pameran secara rutin dilakukan. Sepuluh tahun kemudian, galeri ini menjadi tuan rumah salah satu pameran yang sangat penting di Indonesia, The Hidden Works and Ahmad Sadali, yang menampilkan karya-karya terbaik dari Ahmad Sadali, salah satu pelukis ternama Indonesia.

Sampai saat ini, puluhan pameran telah diadakan. Pameran-pameran tersebut meliputi lukisan, patung, maupun grafis hasil karya lebih dari seratus seniman dari generasi terdahulu sampai sekarang. Beberapa nama seniman yang karyanya sempat terpajang di Edwin’s Gallery antara lain: S. Sudjojono, Mochtar Apin, Affandi, Srihadi Soedarsono, Soeromo D.S, Djoko Pekik, Sunaryo, Arie Smit, Donald Friend, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, dan Han Snel. Sejumlah seniman Indonesia kontemporer generasi 80-90-an yang telah mengadakan pameran di sini antara lain adalah Anusapati, Entang Wiharso, Heri Dono. Sementara generasi yang lebih muda terdapat nama-nama Rudi Mantofani, Dikdik Sayahdikumullah, Ay Tjoe Christine, Bunga Jeruk, Sekar Jatiningrum, dan yang lainnya.

Saat ini, sebuah museum telah disiapkan sebagai bagian dari perkembangan galeri ini. Museum yang direncanakan untuk dibuka pada tahun 2009 ini tidak hanya menampilkan karya seni visual saja, tetapi juga performing art seperri musik dan teater. Selain rumah bagi koleksi pribadi Edwin, museum tersebut diharapkan juga akan menjadi rumahnya karya-karya seni terbaik.

Edwin merupakan seorang yang dekat dengan dunia seni yang berani melawan arus. Pilihannya untuk mendirikan galeri sekaligus menjadi kolektor banyak dikritik oleh kalangan seniman. Bagi sebagian besar kalangan seni di Indonesia, pemilik galeri tidak boleh menjadi kolektor karya seni.

Berikut wawancara PasarInfo.com dengan Edwin yang berlangsung pada bulan Maret lalu:

Apakah awalnya memang merupakan seorang kolektor?

Kemarin saya baru diwawancara juga oleh sebuah majalah dan saya memberitahukan tentang “dosa” saya. Sebetulnya saya membuka galeri itu karena satu tujuan yang saya tidak pernah beritahukan kepada orang-orang, saya ingin menjadi kolektor. Saya tidak mengerti bagaimana cara mengkoleksi, lalu saya belajar dari seniman. Kenapa saya membuat galeri? Karena untuk membuat pameran. Untuk apa membuat pameran? Untuk mencomot lukisan. Jadi tidak banyak orang yang tahu kalau saya mengoleksi lukisan. Baru pada tahun 2006, orang-orang sadar kalau saya juga mengoleksi lukisan.

Sebagai pemilik galeri, akan sulit jika ketahuan mengoleksi lukisan. Banyak kolektor yang tidak senang kalau saya mengoleksi lukisan. “Kok galeri mengkoleksi? Karya terbaik kok disimpan?” Menurut saya, itu hak saya.

Apakah pemilik galeri tak boleh sekaligus menjadi kolektor?

Banyak kolektor merasa itu kontradiktif. “Kenapa kamu bikin pameran tetapi karya yang terbaik kamu simpan?” Saya bilang, kalau pun tidak saya simpan, apa para kolektor bisa membeli semua karya yang terbaik? Kalau karya itu saya beli dan saya simpan untuk tujuan agar orang tidak boleh melihatnya, itu memang salah. Tujuan saya nanti, sekitar tahun 2009, ingin membuka museum. Ini salah satu program saya yang ingin saya jalankan.

Saya pernah ditegur oleh seorang kolektor yang sudah cukup tua, meski sambil bercanda, “Masa galeri jadi kolektor?” Saya bilang begini, coba kamu telusuri sejarah galeri di mana saja, ada nggak galeri yang mapan yang bukan kolektor? Di Indonesia kita mengenal Alex Papadimitriou dan Adiprana, seorang kolektor dan juga pemilik galeri. Tidak ada orang yang membuka galeri yang tidak memiliki dasar sebagai seorang kolektor. Kalau orang yang membuka galeri tidak mengoleksi dan tidak suka karya seni, berarti dia hanyalah pebisnis. Harusnya semua pemilik galeri memiliki passion. Kalau dia tidak cinta dengan karya seni, galerinya tidak akan berumur lama. Kalau kita membaca sejarah kolektor besar dunia, saya rasa semua sama. Mereka membuat pameran bagus untuk mengoleksi.

Karya seni dalam sebuah pameran itu tidak harus dijual kan?

Memang betul. Di Indonesia, banyak yang salah kaprah. Persepsi umum tentang seni rupa juga banyak yang salah. Kalau kita lihat dalam infrastruktur dunia seni rupa yang mapan seperti di Amerika dan Eropa, galeri, museum, balai lelang, dan media mempunyai fungsi sendiri. Ada juga kritikus, kurator, dan sekolah seni yang semuanya menjadi satu kesatuan dalam sebuah sistem. Nah, kita di sini masih hiruk pikuk. Contohnya, anak-anak sejak usia dini di Eropa sudah diperkenalkan kepada museum. Otomatis, ketika mereka telah dewasa, mereka punya background seni rupa. Sementara di sini, anak-anak kita tidak dibekali dengan ilmu tentang seni rupa. Maka ketika ingin menjadi kolektor, mereka memulainya dari nol. Itulah yang menjadi kendala di dunia seni rupa kita. Buku tentang seni rupa saja kita kurang. Jadinya kita berjalan tanpa ada fondasi yang kuat.

Banyak kolektor melihat lelang itu sebagai tolok ukur. Di luar negeri bukan lelang yang dilihat, tetapi museum dan galeri. Balai lelang itu adanya di urutan paling belakang, istilahnya penjual barang bekas. Jika sebuah galeri mau menjual sebuah karya yang sudah mereka simpan selama puluhan tahun, mereka menjualnya ke balai lelang. Di sini, karena museum itu tidak ada, maka balai lelang urutannya di nomor satu.

Apa yang membuat sebuah karya menjadi bernilai?

Misalnya, karena karya ini adalah koleksi X yang terkenal di dunia seni rupa sebagai seorang kolektor yang berpengaruh. Di sini, orang kita kurang kritis dalam melihat masalah ini. Saran saya, kalau ingin menjadi seorang kolektor, seseorang harus punya pengetahuan dan pengalaman. Tidak semata-mata hanya karena memiliki pengalaman dengan lelang, karena lelang itu bukan merupakan tolok ukur. Ini yang menjadi salah persepsi di kalangan orang Indonesia.

Bagaimana Anda menghidupi Edwin’s Galleri?

Awalnya saya seorang fotografer, jadi fotografi saya yang menghidupi galeri. Saya sadar bahwa suatu saat saya akan jenuh dengan fotografi, karena itu saya membuka galeri. Sekarang galeri ini yang menghidupi dirinya sendiri. Saya pikir galeri itu lebih hidup, lebih banyak kemungkinannya, dan bukan sesuatu yang mudah. Banyak sekali polemik di dalam sini yang orang tidak tahu. Banyak galeri yang buka tutup karena mereka tidak sadar banyak faktor dan liku-liku yang mereka tidak tahu. Saya rasa liku-liku itu di bidang apa saja pun ada.

Apakah Edwin’s Gallery selalu memilih seniman yang sudah mapan?

Kalau anda baca sejarah saya dari dulu, banyak seniman yang terkenal sekarang mulainya dari sini. Bukan setelah mereka terkenal lantas saya bawa ke sini. Pada tahun 1991, Joko Pekik pertama kali mengadakan pameran di sini. Saya yang pertama kali membeli karya-karya seniman seperti Rudi Mantovani dan Ugu Untoro. Justru polemik yang ada sekarang adalah galeri mencari seniman yang sudah mapan. Kalau semua orang mencari yang mapan, lalu yang membuat menjadi mapan siapa?

Untuk mengadakan pameran, kita mempunyai tim kurator. Saya mengusulkan seniman, mereka juga mengusulkan seniman. Setelah itu kita rancang dan rangkum bersama. Semua itu banyak faktornya. Kalau sebuah galeri tidak mempunyai nama, siapa yang mau ikut pameran. Yang mau saya tekankan, setiap individu di bidang apa pun harus membangun reputasinya.

Bagaimana memilih karya seni untuk koleksi pribadi?

Itu mungkin lebih ke instinctive dan banyak mendapat pengaruh dari pengalaman dan intuisi saya. Kalau ditanya teorinya, tidak bisa saya ungkapkan. Sangat pribadi sekali. Bukan pribadi dalam arti tertutup, namun banyak hal-hal yang abstrak dan pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa diungkapkan.

Ada kecenderungan gaya tertentu dalam koleksi pribadi?

Tidak bisa dibilang kecenderungan karena saya tidak terlalu mengikuti opini publik. Dulu saya juga mengumpulkan peta tua, mobil tua, kain, dan segala macam. Lalu saya berpikir, ada sesuatu yang tidak benar. Kenapa saya harus mengikuti pendapat publik? Sebuah koleksi yang baik harus merefleksikan seseorang. Kalau saya tidak suka dengan karya tertentu, maka saya tidak ambil. Akhirnya saya bikinlah koleksi saya sendiri. Anda mau lihat boleh, Anda tidak suka silahkan keluar.

Museum untuk koleksi pribadi itu akan dibangun di mana?

Di belakang Edwin’s Gallery. Sudah ada denah dan maketnya, tinggal tunggu dananya. Saya banyak membeli lukisan murah-murah karena saya mulai lebih dahulu sebelum orang-orang mulai. Ketika saya membeli karya seorang seniman yang harganya masih murah, lalu sekarang tiba-tiba menjadi mahal, saya tertawa melihatnya. Di situ lah letak kenikmatan menjadi seorang kolektor. Hunting untuk menemukan sebuah karya.

Apa karya pertama dalam koleksi?

Terus terang saya tidak ingat. Karena saya juga tidak ingat kapan saya mulai menjadi seorang kolektor. Jadi kalau Anda bertanya yang mana, terus terang saya bingung.

Seperti apa Edwin’s Gallery sekarang?

Galeri saya banyak berinteraksi dengan galeri di luar negeri. Saya telah membangun network di wilayah Asia dengan Beijing, Shanghai, Korea, dan Taipei. Kalau seorang seniman sudah dikenal dan memiliki network yang sama dengan galeri Anda, maka tak ada untungnya ikut pameran. Anda harus mempunyai network yang tidak dimiliki oleh seniman itu, baru itu bisa berguna. Tahun ini saya membawahi sepuluh seniman dan membawa mereka ke network saya di Asia. Tujuannya agar mereka mempunyai network baru. Itu tugas saya sebagai manajer. Network ini sangat berguna untuk eksistensi galeri saya sekaligus juga membuka kesempatan dan memberi reputasi kepada seniman.

Ada alasan khusus memilih Kemang sebagai lokasi galeri?

Saya melihatnya begini, apresiasi orang Eropa terhadap seni rupa itu lebih baik dari pada orang Indonesia. Pengetahuan mereka dalam seni rupa lebih mapan dan mereka banyak tinggal di sini. Padahal, dalam kenyataanya pembeli kita yang orang asing itu hampir tidak ada. Kedua, saya melihat tempat ini lebih arty, lebih artistik. Saya lebih suka tempat yang harmonis dan tidak terlalu menonjol dan sepi.

Ketika itu, tanah di sini juga masih murah. Saya berpikir kalau galeri ini berhasil di kemudian hari, maka lokasinya di mana pun tidak akan jadi masalah. Tapi dilema saya sekarang, di luar dugaan Kemang telah menjadi tempat lifestyle. Ini malah menjadi problem buat saya. Sekarang banya anak muda yang nongkrong dan hura-hura di sini. Dulu, Kemang merupakan daerah elit. Restoran bagus itu adanya di sini. Sayangnya, pertambahan pembangunannya terlalu cepat. Dampaknya, jalanan menjadi macet. Orang-orang yang makan di restoran kelas elit ini menjadi enggan datang lagi. Akhirnya mereka digantikan oleh anak muda. Lama-lama Kemang bisa menjadi seperti Kuta. Pengunjung galeri pada hari biasa otomatis menjadi agak sepi karena orang sudah tidak mau kesini lagi kecuali hari Sabtu dan Minggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: